Author : Mau Lee
Title
: Just you (Please, Don’t
leave me again)
Genre
: Angst, Romance, Education, Friendship #banyak
amat
Main
Cast : Choi Sulli a.k.a Jinri a.k.a Sulli
Choi Minho a.k.a Minseok a.k.a
Minho
Kim Kibum a.k.a Key
Other
Cast : Ride be yourself. OK!
Length
: Chaptered
Themsong
: Last word (Lee Seung Gi)
Life (SHINee)
Pada dunia.. Aku
memohon hanya mencintai kau seorang
Oh, saat kehidupan berlalu begitu berat.. Datanglah kepadaku
Aku tak bisa mengucapkan apapun dan
kenanganku terbawa oleh angin
Aku bersembunyi di balik air mata dan menantimu
Karena kenangan yang menyakitkan itu menyakiti dan membuatku menangis
Satu kata ‘aku mencintaimu’
Kata “Aku menunggumu”
Terus terngiang di telingaku
Kata yang tak bisa kuucapkan itu menyakitiku
Melukai dan melukai hatiku
..DON’T
LEAVE ME AGAIN..
CHAPTER 1
AUTHOR
P.O.V
Tangan putihnya mencakar-cakar tanah, dan sesekali mengelus dua batu
nisan dikanan kirinya. cairan bening menderas dipipinya, mempertegas aroma
keharuan di area pemakaman itu.
“EOMMA.. APPA.. mengapa secepat ini kalian meninggalkanku eoh.. bahkan kalian
pergi disaat aku telah mendapatkan ini..” dari dalam sakunya Sulli mengeluarkan
medali emas olimpiade matematika yang berhasil ia raih tidak berselang waktu
lama dengan kabar kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtuanya.
“HWAAA.. apa yang bisa kulakukan tanpa kalian. Aku.. aku takut.. aku takut
eomma.. appa.. siapa lagi yang kupunya didunia ini selain kalian eoh? Tidak ada
sanak saudara yang kumiliki. Aku tau kalian anak tunggal, dan sampai sekarang
aku tidak tau nenek dan kakekku dimana? Haraboji do halmeoni juga sudah tidak
ada.. dan sekarang kalian juga meninggalkanku. Aku belum sanggup menerima ini
semua” dengan terisak Sulli kembali meratap kepada kedua tanah gembur berbatu
nisan itu.
Hampir 3 Jam sudah sulli berada di pemakaman itu.. ia meluapkan segala
kesesakan dan kerinduan yang teramat sangat diantara kedua nisan itu.
“Ya! Choi Sulli” teriakan seorang namja berhasil mengheningkan suasana
dan membuat Sulli refleks memasukan kembali medali yang sebelumnya ia pegang ke
dalam saku hoodie-nya.
“Kimm.. Kim kibum” dengan ragu-ragu Sulli menyebut nama itu. mengusap
sisa air matanya dan perlahan bangkit dari duduknya
“K.. kau masih ingat namaku?”
Namja itu mematung sejenak, karena kagum atas kecantikan seseorang yang sedang
ia lihat sekarang, masih dengan raut heran key pun mendekati sulli.
“Jadi kau benar-benar kim kibum? Key, kaukah itu?” masih penasaran, Sulli
kembali bertanya kepada namja didepannya, iya meneliti detail tubuh dan wajah
namja itu.
“Yak kau!.. Aniya, aku adalah hantu penunggu pemakaman ini” jawab namja itu
dengan nada kecewa.
Bukannya takut, Sulli justru mengucek matanya dan mencubit tangannya
“Aww.. appo” kali ini sulli sadar bahwa ia sedang berada di alam nyata. Dan
namja didepannya benar-benar key. Anak dari sahabat ayahnya di Korea.
“Sulli-ah bukankah kau sudah 8 tahun di Indonesia?” key bertanya kepada sulli,
ia terlihat benar-benar penasaran..
sulli mencoba menghitung sudah
berapa lama ia tinggal di Indonesia dan tepat sekali. Sulli memang sudah 8 tahun
di Indonesia.
“Ne, wae?” Sulli balik bertanya
“Kau masih bisa berbahasa korea eoh? ahh Daebak” kalimat pujian akhirnya keluar
dari bibir key untuk sulli
“tentu saja aku masih bisa. Aku selalu memakai bahasa korea dengan appaku”
jawab sulli dengan nada rendah
“baguslah.. Kajja!” key menarik paksa tangan sulli
“YAA! Eodiga?” tanya sulli sambil sedikit memberontak, berharap bisa melepaskan
tangannya dari genggaman key yang cukup erat
“apa kau mau tidur dipemakaman ini ha?” Key mempererat genggamannya.
Mereka kemudian meninggalkan pemakaman menuju Choi’s apartement di daerah
keramaian kota Yogyakarta, Indonesia.
**
‘OMO dia yang asli ternyata
lebih keren daripada yang di photo facebook..
Ah ada apa denganku’ sekarang sulli yang gantian mematung dan terus berucap
bisu. ia benar-benar takjub(hah?) melihat sesosok(?) namja disampingnya.
“AWWH..” sulli menjerit kesakitan karena jitakan yang dilakukannya sendiri.
“ya ulgo, kenapa kau selalu menyakiti dirimu sendiri eoh?”
“Aniya. Itu sudah menjadi tradisiku..
jika aku sedang seperti ini” jawab sulli polos
“Mwo?” key terkekeh mendengar jawaban sulli.
sulli terlihat kesal melihat key yang sedang terkekeh
“yya apa yang kau lakukan disini? Untuk apa kau datang jauh-jauh dari korea ke
Indonesia?” tanya sulli penuh telisik
“aku merindukanmu” jawab key singkat, sambil sejenak mengedarkan pandangannya
ke spion.
“Yya kibum.. kau sedang menggodaku kan.. aku serius!” sulli memicingkan
kepalanya kearah telinga key yang sedari tadi asyik menyetir.
“Aku memang merindukanmu ulgo!.. hanya saja ada hal lain yang lebih penting
dari itu..
(FLASHBACK)
Key : “appa waeyo?.. nuguya.. kenapa kau kelihatan sedih?”
Key appa : “sahabat appa, Choi myunwoong dan istrinya meninggal karena
kecelakaan saat mengantarkan sulli untuk mengetahui pengumuman kejuaraan
olimpiade matematika”
Key : #hanya terdiam dengan tampang sedih yang entah sejak kapan muncul.
Key appa : “Kibum-ah.. sebenarnya myunwoong ahjussi sudah lama berniat untuk
memindahkan Sulli ke Korea. Tapi saat appa tanya kenapa begitu. Myunwoong
ahjussi hanya tersenyum dan tidak memberi alasan. Tapi biar bagaimanapun,
keluarga mereka telah banyak membantu kita. Sekarang saatnya kita membalas
kebaikan mereka nak. sementara appa mengurus surat kepindahan sulli, bisakah
kau menjemputnya besok?”
Key : “Arrasso appa.. besok aku akan menjemput sulli.. appa tenang saja”
(FLASHBACK END)
..jadi aku kesini untuk menjemputmu dan membawamu ke Korea!” key menjelaskan
panjang lebar. Dan cairan bening kembali membasahi pipi sulli.
“Yaa neomu neomu ulgo-ya..” kritik key singkat sambil menyodorkan tissue
kepada sulli
“ AANIYA! Aku bukan orang cengeng, hanya saja..” sulli mengambil tissue yang
diberikan key
“ Ce–ngeng? bwoya? pegangan yang erat.. aku akan ngebut” Key memotong sanggahan
sulli, dan mempercepat laju mobilnya.
**
Sulli sangat heran setelah sadar bahwa ia dan key sekarang sudah berada
di rumahnya.
“Bagaimana kau tau rumahku disini, daann.. ohiya siapa yang mengantarmu ke
pemakaman?” tanya sulli sambil membuka pintu rumahnya yang terkunci.
“ya! pertanyaanmu terlalu banyak seperti kyuhyun seongsaenim, bukan hal sulit
bagiku untuk tahu keberadaanmu sull, sekarang cepat kemasi barang-barangmu.
Hari ini juga kita berangkat.. dan soal kepindahan sekolahmu biar appaku yang
mengurus!” key sambil melepas jacketnya dan kemudian duduk di sofa rumah sulli
“MWO? Hari ini?” key hanya diam seolah tidak mendengar apa yang sulli katakan
barusan
“Arrasso.. arrassoo- kau tunggu disini.. jika ingin minum ambil sendiri di
kulkas” jawab sulli dengan mimik kesal, lalu kemudian menaiki anak tangga
menuju kamarnya.
“anak pintar., chowa” key tersenyum menyetujui.
AUTHOR P.O.V END
**
CHOI SULLI P.O.V
“HWAA.. INCHEON..
Akhirnya.. setelah 8 tahun di Indonesia,
aku kembali lagi di Negara kelahiranku ini”
“....”
“ ya, aku benar-benar senang kembali kesini..” ucapku sedikit keras dan membuat
key hanya tersenyum.
“Welcome again to south of korea Choi Sulli” Ucap key dengan lidah yang fasih
menurutku, yah wajar saja, diakan pernah sekolah 2 tahun di Amerika.
kami pun memutuskan untuk makan dan beristirahat sejenak, sebelum melanjutkan
perjalanan.
**
Key memarkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah yang tidak terlalu
luas namun cukup mewah. Eksterior alami rumah ini memanjakan mataku, ditambah
lagi udara yang sangat segar membuatku semakin betah berada disini.
“ini rumahmu” key menyodorkan sekawanan kunci kepadaku.
“Maksudmu?” tanyaku bingung.
“ayahmu telah membeli rumah ini untukmu. Jadi tinggalah dengan baik disini.
Ohiya, disamping rumahmu ini adalah rumah Choi minho. Dia teman sekelasku.
Kurasa ini hal yang baik” kulihat key menunjuk sebuah rumah yang tepat berada
disamping rumahku.
Choi Minho? Marganya choi juga. Lalu apa hubungannya denganku?. Dasar namja
aneh.
Kulihat key mengangkat ponselnya yang berdering.
“aku harus segera pulang Sulli, sudah hampir malam, dan adikku sendirian
dirumah. kau masuklah” Key berpamitan.
“a.. arrasso. Gomawo jeongmal Kibum-ah, dan titip salam buat sangbum saengi
(eh^^)” aku berterimakasih kepada key. Dan kulihat dia hanya tersenyum sambil
memperlihatkan OK Sign padaku.
**
“HWAA.. rumah ini sangat nyaman.
dimana kamarnya? Eummm.. ah mungkinkah itu?”
aku mencoba masuk ke sebuah pintu yang kukira kamar, benar saja ini memang
kamar. Langsung saja kubaringkan tubuhku yang terasa remuk ke kasur yang terlihat
empuk itu.
“Appa.. kau benar-benar tepat memilih rumah ini untukku., Eomma. sekarang aku
akan menjadi anak mandiri seperti yang kau mau.”
*Remember me i’m in da-da-da –danger pinocchio
Siapa yang menelponku ya?. kibum
“Yoboseyo”
“ : Yoboseyo Sulli-ya, appaku sudah
mengurus surat kepindahanmu. dan kau bisa
sekolah besok. Setengah tujuh aku sudah ada dirumahmu. Ok!” tut tut tut
“Kibum-ah..”
ash sial kenapa dimatikan
*Remember
me i’m in
“Ya kim kibum kau gila! aku masih sangat lelah tidak
mungkin aku langsung bersekolah besok”
“ : Kim kibum? Jangan ngomong korea ke gue sul, ra mudeng blas”
hah.. Shinta
“Ah maap shin.. ada apa?”
“ : eh sul, lu beneran pindah sekolah ke korea?”
“em bukan sekolah aja, gua juga udah tinggal di korea sekarang, maap ya nggak
ngabarin sebelumnya, abis ngedadak banget”
“ : jahat lu sul nggak bilang-bilang, ntar gue belajar emteka sama siapa dong
kalo lu nggak ada”
“kan masih ada nissa shin, hehee okedeh gue janji tahun baru ntar maen ke
yogya”
“ : sipp.. gue tunggu loh. Yaudah sekarang lu istirahat. Pasti capek banget
dari yogya ke korea, baek-baek lu disana jangan ngikut-ngikutan oplas lu”
“haha iyo mbak shinta”
“ : Yowes,. Annyeong hehe”
“Annyeong!”
Shinta shinta.. aku akan sangat merindukanmu disini
Agghh.. baiklah, lebih cepat kembali bersekolah lebih baik kan..
Hoahm.. aku benar-benar lelah!
**
Mataku tertagup pada sekumpulan bangunan megah bernuansa coklat.. yang
dikelilingi hamparan alami hijau rumput dan hamparan buatan. Kumantapkan
langkahku, kubulatkan tekatku, dan kujernihkan pikiranku. Ya seperti yang kibum
bilang. Aku hanya perlu bertemu kepala sekolah dan wali kelasku untuk kemudian
memulai hariku sebagai siswi di SMA ini.
Urusanku dengan kedua orang penting itu akhirnya selesai.. mereka
tampak sangat ramah terhadapku. Bahkan
aku banyak mendapatkan pujian dari mereka, mulai dari prestasiku sampai dengan
wajahku takluput dari pujian mereka. Waa, ada-ada saja memang, tapi ini awal
yang bagus bukan.
**
#BRUKK..
Ah.. apa yang kulakukan, kenapa aku bisa menabrak orang ini?.. mwo dia
namja..
“Jhwesonghamnida” aku mencoba mengambil berkas-berkasku
yang jatuh. Dan kulihat baju namja
tinggi itu basah, oleh minuman yang ia bawa sepertinya.
“Ya yeoja pabo.. kau punya mata tidak hah?” ekspresi kesal kini kulihat
diwajahnya yang kupikir tampan itu. Ah aniya aniya.
“Mianhada oppa, jeongmal mianhaeyo” aku
kembali meminta maaf padanya, dan kali ini kucoba mengelap bajunya dengan hyuji
yang ada disaku seragamku.
“ash, lancang sekali kau.. jauhkan
tanganmu dari bajuku!” ia mengusir paksa tanganku.
“Ya.. aku bukannya sengaja melakukan ini. Tidak bisakah kau bertindak lebih
baik eoh?” sanggahku.
Kulihat raut wajahnya yang semakin takbersahabat
“Tidak bisa!”
namja itu pergi dari hadapanku dengan raut kesal yang masih saja terlihat.
“Haiss.. makhluk macam apa itu? Menyeramkan sekali”.
*[Eleven A]*
Sebelas A.
Ya taksalah lagi ini kelasku.. aku tidak menyangga bisa masuk di kelas unggulan
sekolah ini,
oke choi sulli, ini saatnya. HWAITING.
Aku mengetuk pintu dan memberi isyarat izin masuk pada seorang guru
yang sedang bertugas. Guru itu kemudian mendekatiku, dan mengantarku masuk. Dengan
langkah yang agak ragu, aku memasuki ruang kelas ini. Kulihat tepat didepan
mataku ada kibum yang terlihat kaget melihatku.
“Jagisogaeyo!”
Guru emm.. atau yang disebut orang-orang korea sebagai “songsaenim” itu
mempersilakanku untuk memperkenalkan diri. Aku menunduk sambil tersenyum kearah
seongsaenim
“Annyeong haseyo! naneun Choi Sulli imnida..” aku mulai memperkenalkan
namaku. Dan kulihat semuanya memperhatikanku seksama.
Tapii..
loh itukan namja yang tadi kutabrak?
sekelas denganku? yang benar saja.. Yak Sial bukannya memperhatikan, dia justru
asyik dengan bukunya.
“Aku siswa pindahan dari Indonesia. Senang bisa sekelas dengan kalian. Semoga
kita bisa berteman baik”
“Song qian imnida” guru cantik disampingku ini dengan ramah memperkenalkan
namanya
“Nde seongsaenim bangapta” aku menundukkan kepalaku sekejap tanda hormat.
Kulihat juga ekspresi ramah dari teman-teman baruku ini, tidak termasuk orang
itu tentunya.. Dan qian songsaenim menunjukkan tempat dudukku. Dan aku cukup
terkejut karena ternyata aku duduk disamping namja seram yang kutabrak tadi.
..Ah i dont care. Kuletakkan tas ku, ku keluarkan buku dan ku ikuti pelajaran
yang sedang berlangsung.
Wahh, ternyata benar, sekolah ini memang sekolah khusus anak-anak
berprestasi di bidang sains. Aku benar-benar kagum, piala-piala raksasa
terpajang dimana-mana, saat jam istirahat kulihat perpustakaan penuh dengan
siswa, sama halnya dengan leb-leb sains sekolah ini. Aku benar-benar tersentuh
melihatnya. beruntung sekali rasanya bisa bersekolah disini.
Dari kaca kelas, Kulihat kibum sedang berbincang pada seorang guru, ia
tampak serius sekali di hadapan guru yang seperti sedang memberikan pengarahan
kepadanya.
..**
Kelas kami mendapatkan jam kosong. Karena pak Nichkhun yang seharusnya
masuk sedang ada tugas di luar kota. Tapi tentu saja kami tetap diberi tugas.
Aku telah selesai dengan tugasku dan aku berniat untuk kembali menelusuri
sekolah yang sangat luas ini. Aku meminta izin kepada ketua kelasku. Dengan
senyum manisnya yang terlihat dewasa, Lee Hyun woo mengizinkanku.
Aku telah menelusuri seperempat bagian sekolah ini. Dan sampailah aku
di depan sebuah lorong pemisah kelas yang benar-benar sempit, hanya seukuran 3
jengkal tanganku.
Tapi aku benar-benar penasaran ingin melihat ada apa di ujung lorong itu. Aku
taktau kelas berapa yang ada dikanan kiriku sekarang. yang penting aku harus
berhasil mengobati rasa penasaran ini
“Ya anak baru!”
terdengar suara seseorang yang cukup
tidak asing ditelingaku.
Langkah kaki pemilik suara tadi terasa mendekat, semakin dekat, hingga aku membalik
badanku, DANN..
mata besar..
tubuh yang lebih tinggi dariku..
namja..
tammmpan..
MWO? Dia namja yang tadi pagi bertabrakan denganku, namja yang sekelas
denganku, yang bangkunya berada tepat disebelah bangkuku.
Kulihat mukanya memerah, dicampur mimik terkejut, dan juga raut kesal.,
benar-benar tak karuan,
akupun merasa hal yang sama ‘tak karuan’ pada jantungku.
Mata kami bertatap dekat, bahkan hembusan nafasnya dapat dengan jelas
kurasakan. Tapi entah kenapa aku merasa tidak asing berada dekat dengannya,
sangat dekat bahkan.. aku seperti sudah pernah mengenal baik namja ini.. tapii
kapan.. dimana? Ah tidak mungkin aku pernah mengenal namja killer seperti dia.
Baiklah ini harus dihentikan. Bisa mati aku jika membiarkan darahku terus menerjun
deras dan jantungku terus berdetak abnormal seperti ini.
aku segera menyeret badanku, dan mengubah posisiku dari posisi tadi.
Dan sekarang aku berada disampingnya.
“Namaku Sulli!” ucapku ketus, sambil tetap mengatur nafas
“Aku sudah tau bodoh” ucapnya dingin dengan pipi yang masih memerah(aish^^)
“Geureyo? kuronika... kenapa kau memanggilku anak baru, kaukan sudah tau namaku”
protesku kesal, dan kudapati nafas dan aliran darahku sudah membaik sekarang,
namun sayangnya tidak untuk jantungku
“haish, kenapa kau bawel sekali eoh. Kaukan memang anak baru. Jadi tidak salah
dong kalau ku panggil kau anak baru” kulihat namja itu menyapu keringat di
dahinya.
bukannya sadar, dia malah terus memberikan kalimat-kalimat menyebalkan padaku.
Bodohlah, bawellah.. nanti apalagi
“ishh.. lalu kenapa kau memanggilku?” tanyaku masih kesal.
kulihat namja itu menunudukkan matanya. Kuikuti arah pandangnya dan kudapati
sebuah warna merah pudar yang cukup besar dan berbentuk tidak beraturan di baju
putih namja itu.
“akukan tidak sengaja dan aku sudah minta maaf. lagian salah sendiri
minum sambil jalan” aku mencoba membela diri
“YYA ANAK INDONESIA! KAU MALAH MENYALAHKANKU SEKARANG? AKU TIDAK MAU TAU.. KAU
HARUS BERTANGGUNG JAWAB!” suara beratnya kini membentakku, aku cukup takut
dengan itu
“k.. ke. Keure, a pa yangg harus kuu lakukan?” aku merasakan ada yang berubah
dari suaraku.. Oh Tuhan aku benar-benar takut.
“HAHAHAA.. Kau benar-benar lucu! Hari minggu besok kutunggu kau di taman kota.
Pukul 07 SKT harus sudah ada disana. Jika tidak...”
“AAArrasso.. aku akan datang tepat waktu” aku putus kata-katanya karena aku
tidak ingin mendengar kalimat mengerikan keluar lagi dari mulutnya.
“HAHAHAA.. yakso?” kulihat ia kembali tertawa puas seraya menjauh dariku
“yakso!” ucapku singkat
**
Aku pulang bersama kibum.. jujur ada banyak hal yang ingin kutanyakan
padanya. Tapi kulihat dia benar-benar sedang berkonsentrasi pada stir dan rem
mobilnya, baiklah aku tidak akan mengganggunya.
“Ya choi sulli-ah! Kenapa kau dari tadi diam saja? Kau taksuka pulang
bersamaku?” tanyanya dengan nada kecewa.
“Aniya! Aku hanya tidak ingin mengganggu konsentrasimu..” kulihat ia hanya
tersenyum heran
“sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu” lanjutku.
“Mworago?” tanya key singkat.
ah aku tidak mungkin menanyakan soal namja mengerikan itu. Bisa-bisa key salah
paham.
“Hmm.. Apa yang kau bicarakan dengan seongsae didepan kelas tadi? Sepertinya
sangat penting”
ah akhirnya aku menemukan pertanyaan yang tepat.
“oh itu. Aku sedang mendapat pengarahan dari Kyuhyun seongsaenim. Aku, Minho
dan Hakyung masuk final karya ilmiah remaja sulli, dan kebetulan aku tadi berada
di depan kantor dan kyuhyun seongsaenim melihatku, jadinya akudeh yang
dipanggil. Dan bulan depan finalnya.” Raut bahagia terpancar dari wajah key.
“Hwa daebak! Kibum hwaiting!” aku menyemangatinya
“tentu saja aku akan bersemangat sulli-ah” ia tersenyum dan sedikit mengacak rambutku.
OMO apa yang dia lakukan.
“Ya kim kibum.. kau tidak bosan
bolak balik dari Nowon ke Dongdaemun hanya untuk mengantar jemputku?” tanyaku
penasaran.
“Cukup melelahkan sebenarnya” jawab key
datar.
“kalau begitu mulai senin besok kau
jangan menjemputku lagi ya!.. aku bisa mencari kendaraan umum kok” usulku
“ya kau marah sulli-ah? Yang kubicarakan tadi itu omong kosong. Aku sama sekali
tidak keberatan mengantar jemputmu tiap hari. Sungguh!” key meyakinkanku
matanya menatapku menyesal sampai-sampai mobilnya oleng
“YA KIM KIBUM... hhaaaaah” aku terkejut melihat mobil key nyaris menabrak
pembatas jalan, syukurnya hanya nyaris..
setelah kejadian itu sepanjang perjalanan kami hanya diam. Hingga pagar putih
rumahku terlihat.
“Key.. sudah cukup aku merepotkanmu selama ini, kau dan keluargamu
benar-benar baik. Aku tidak mau merepotkan kalian lebih banyak, jadi tolong
mulai senin besok berhenti mengantar jemputku, aku ingin belajar mandiri
seperti yang eomma inginkan” ucapku setengah memohon
“tapi aku tidak...”
“Kibum-ah cheball!” aku memotong kata-kata key dan kali ini aku benar-benar
memohon padanya
“Geureh! Jaga dirimu baik-baik kau bisa menghubungiku jika ada sesuatu yang
sulit” entah ekspresi apa yang ada di wajah key sekarang, dia tersenyum, tapi
raut kecewa masih tersisa dimatanya.
“Arrasso” ucapku mencoba tersenyum. Dan kini key sedikit menepuk pundakku.
“aku pulang” ucap key.
“Nde.. hati-hati dijalan” pesanku.
Key tersenyum dan memasuki mobilnya untuk segera pulang.
Pandanganku teralih pada sebuah rumah mewah disamping rumahku, rumah itu terlihat sepi. Sejak kemarin aku
tidak pernah melihat si penghuni rumah. Tapi semalam kulihat lampunya hidup.
Dan sekarang mati. Jadi tidak mungkin kalau tidak ada penghuninya.
Choi minho.. iya key bilang choi minho adalah nama pemilik rumah ini,
dann ohiya key juga bilang kalau choi minho adalah teman sekelasnya. Berarti
dia teman sekelasku juga dong. Tapi yang mana? Dan kata key tadi Choi minho
juga tergabung dalam grup Karya ilmiah key.
argh.. kalau terus memikirkan itu kapan aku masuk dan beristirahat.
“Paboya!” kujitak kepalaku karena kecewa pada diriku sendiri.
“Awh” ini cukup sakit tapi dampaknya..
aku merasa lebih baik sekarang.
“Taman kota.. namja itu, hukuman apa yang akan ia berikan padaku
besok..
ack, bahkan namanya saja aku belum tau, tapi kenapa saat berada disampingnya
aku merasa nyaman, aku seperti sudah pernah kenal dengannya..”
Ku rebahkan tubuhku di kasur dan
sprei pink kesayanganku,
pandanganku yang semula kosong kini tertuju pada sekumpulan cangkang-cangkang
kecil hewan laut yang dibentuk sebuah kalung..
aku tidak sadar seketika cairan bening membasahi pipiku, kalung itu seakan
menghipnotisku untuk bangkit dan mengambilnya..
“Minseok oppaaa... aku merindukanmu,
sangatt merindukanmu.. 8 tahun sudah kita tidak bertemu oppa.. kau dimana
sekarang? Maafkan aku yang pergi tanpa memberitahumu dulu..
kalung ini, akan kujaga dengan baik.. saranghada” air mataku menderas dan
membasahi kalung yang sedari tadi kugenggam erat.
Kurebahkan kembali tubuhku, kupejamkan mata berharap kenangan itu
sesaat pergi.
CHOI SULLI P.O.V END
TBC